FILSAFAT ILMU
1.1 Pengertian Filsafat
Istilah Filsafat diserap dalam bahasa Indonesia dari
bahasa arab, yaitu dari kata falsafah. Itulah sebabnya, kedua kata tersebut
sering digunakan misalnya :
a. Filsafat Ilmu,
b. Filsafat Hukum,
c. Falsafah Hidup,
d. Falsafah Ilmu Pengetahuan,
dan beberapa penggunaan lainnya.
Istilah Filsafat dalam bahasa Arab,
sebenarnya juga merupakan serapan dari bahasa Yunani, yaitu kata Philosophia.
Philo berarti cinta dan sophia berarti kebenaran atau hikma. Dengan
demikian Philosophia mengandung arti cinta kebenaran atau cinta akan hikma.
Pengertian Filsafat menurut beberapa ahli diantaranya
dikemukakan Oleh :
-
Plato
(427 – 247 SM) berpendapat bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang segala
yang ada. Bagi Plato Filsafat berkenaan
dengan upaya penemuan kenyataan atau kebenaran mutlak lewat dialektika.
-
Aristoteles
(384 – 322 SM) berpendapat bahwa Filsafat itu menyelidiki sebab dan prinsip
segala sesuatu. Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang
di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi,
politik dan estetika. Dalam arti ini Aristoteles memandang bahwa filsafat adalah totalitas
pengetahuan manusia.
-
Alfarabi
( Wafat 950 M), Filsuf muslim besar sebelum Ibnu Stita berpendapat bahwa
filsafat adalah Ilmu tentang sesuatu yang maujud ( mengada) sebagaimana ia secara hakiki sebagai wujud.
-
Rene
Descartes (1596 – 1650), berpandangan bahwa filsafat merupakan pembentangan
atau penyingkapan kebenaran terakhir.
-
Immanuel
Kant (1724 – 1804 M), Mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal
segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya
empat persoalan, yaitu :
1) Metafisika yang membahas
mengenai apakah yang dapat diketahui,
2) Etika yang membahas mengenai
apakah yang boleh kita kerjakan,
3) Agama yang membahas sampai
dimana pengharapan manusia,
4) Anthropologi yang membahas
apa dan siapa manusia itu sesungguhnya.
Pandangan ahli filsafat mutakhir yang diataranya adalah :
-
Harold
H. Titus, Mengatakan bahwa :
philosophy
is the attempt to give a reasoned conception of the universe and of man’s place
in it.
Filsafat
ialah usaha mencari suatu konsep rasional tentang alam semesta serta kedudukan
manusia didalamnya.
-
J.
A. Leigh ton mengatakan bahwa :
a
complete philosophy includes a word-view, doctrine of values, meaning and
purpose of human life.
Suatu filsafata yang
lengkap mencakup suatu pandangan dunia, atau konsep rasional tentang
keseluruhan kosmos, dan suatu pandangan hidup atau doktrin nilai-nilai,
makna-makna dan tujuan hidup manusia.
Juga dikemukakan pendapat dari guru besar psikologi
Indonesia.
-
Fuad
Hassan, yang menyatakan bahwa : filsafat ialah suatu ikhtiar untuk berfikir
radikal, dalam arti mulai dari radix (akar) suatu hal yang hendak dimasalahkan,
untuk mencapai kesimpulan yang universal.
-
Jujus
S. Suriasumantri, mencoba memberikan pengertian tentang filsafat dengan bahasa
pengandaian.
-
Suriasumantri
mengatakan, seorang yang berfilsafat dapat diumpamakan sebagai orang yang
berpijak dibumi, sedang tengadah kebintang-bintang. Suriasuantri hendak
menjelaskan karakteristik berfikir secara filsafat mengenai ilmu :
1) Berfikir menyeluruh.
2) Berfikir mendasar
3) Berfikir spekulatif.
Ciri utama filsafat yaitu bertanya dan terus
mempertanyakan dalam upaya mencapai hakikat (kesejatian) sesuatu yang
dipertanyakan dengan jawaban yang benar. Tujuan filsafat yaitu dicapainya
jawaban berupa hakikat sesuatu yang dipertanyakan, dengan jawaban yang benar.
Sebenarnya, dari mana pertanyaan filsafat harus dimulai?
Bermula dari pertanyaan sederhana semacam itulah
(misalnya : apakah ilmu pengetahuan?) kita masuk kesilayah filsafat atau
berfikir filsafat. Pertanyaan itu harus dijawab secara radikal atau dari akar
masalahnya, sebagaimana pandangan Fuad Hassan. Untuk menjawab pertanyaan itu
maka kita harus berfikir mendasar mengenai ilmu, berfikir menyeluruh mengenai
ilmu dan berfikir sepekulatif terhadap berbagai kemungkinan kebenaran mengenai
ilmu, sebagaimana pandangan Jujun Suriasumantri.
1.2 Repsentasi Filsafat dalam
Filsafat Barat
Menurut Garaudy ialah bahwa filsafat barat makin lama
makin menegaskan dirinya hanya sebagai cara berfikir dan kehilangan maknanya
sebagai cara hidup. Dalam filsafat barat manusia semakin mengarahkan
perhatiannya semata-mata pada dirinya sendiri tanpa ada hubungannya dengan Alam
dan Tuhan. Dengan cara berfikir seperti itu, mulailah perpindahan manusia
Barat. Manusia telah lupa pada wujud
Alam dan Wujud Tuhan. Demikianlah, dalam pemikiran yang terputus dair
kehidupan, kata-kata dan benda-benda kehilangan artinya sebagai tanda-tanda
(ayat-ayat) Tuhan.
Naguib Al Attas, mengatakan bahwa peradaban Barat
berkembang dari perpanduan historis antara kebudayaan, filsaat, nilai-nilai dan
aspirasi-aspirasi Yunani dan Roma Kuno, serta dengan pencampurannya dengan
Yudaisme dan agama Kristen, yang lebih lanjut melalui percampran dan
pembentukannya oleh bangsa-bangsa Latin, Germanik, Keltik dan Nordik. Dari
Yunani Kuno, Barat Memperoleh unsur-unsur filsafat dan epistemologi serta
dasar-dasar pendidikan etika dan estetika. Dari Roma memperoleh unsur-unsur
hukum, tata negara dan pemerintahan. Dari Yudaisme dan Kristen memperoleh
unsur-unsur kepercayaan agama. Dari bangsa-bangsa Latin, Germanik, Keltik dan
Nordik memperoleh semangat bebas dan jiwa rasional serta nilai tradisional,
serta pengembangan serta pemajuan ilmu-ilmu fisika teknologi.
1.3 Filsafat Islami.
Berfikir islami dengan cara berfikir filsafat yaitu
berfikir filsafati berdasarkan pendangan dunia
yang dibentuk oleh pemahaman akan ajaran islam. Yaitu berfikir filsafati
menurut kkonsep rasionla tentang kesauan kosmos yang dibentuk oleh pemahaman
kaan ajaran islam. Yaitu berfikir filsafati menurut pandangan hidup ajaran
islam. Yaitu berfikir filsafat dengan pemahaman nilai-nilai, makna-makna dan
tujuan hidup manusia menurut ajaran islam.
Memang berfikir itu sendiri oleh islam dipandang sebagai
suatu yang fitra (kodrati) pada manusia. Karena itu ajaran islam yang
direpresentasikan dalam Al Quran dan Hadis Nabi, berulang-ulang memeintahkan (
baca : memberi stimulus ) agar manusia berfikir, serta memberi landasan
petunjuk agar manusa bisa :
1) Melahirkan pandangan
filsafati mengenai berpikir
2) Merumuskan kaidah-kaidah
berpikir logis secara formal
3) Menformulasi materi
filsafati dan materi pengetahuan ilmiah
4) Menformulasikan model pengujian
kebenaran pemikiran
Berfikir filsafati secara islami ialah
memikirkan sesuatu secara ushuli dalam keadaan sadar tentang tentang Allah
(berfikir – zikir) sehingga sang pemikir senantiasa memelihara dan menumbuhkan
kesadaran ke Tuhan annya dan menemukan makna hakiki yang terkandung dalam apa
yang difikirkannya.
Kesejalanan dan sekaligus persimpangan
pengertian antara berfikir filsafati non Islami (Barat) dengan berfikir
filsafati secara Islmi. Kesejalanannya ditemukan dalam kenyataan berfikir
secara radikal terhadap sesuatu yang difikirkan, dan persimpangannya ditemukan
dalam kekhasan berfikir filsafati islmai yang tidak melepaskan kesadaran ke
Tuhanan ketika berfikir.
1.4 Pengertian dan Lingkup
Pembahasan Filsafat Ilmu.
Dalam kamus filsafat yang disusunnya, Loren Bagus
menyatakan bahwa filsafat dalam penggunaanya bagi penyelidikan pengetahuan
manusia (filsafat Pengetahuan), mempunyai arti sebagai upaya untuk menentukan
batas-batas dan jangkauan pengetahuan manusia : sembernya, hakikatnya,
keabsahannya dan nilainya. Dalam hai ini, karena yang akan dipelajari secara
filsafati adalah pengetahuan manusia yang disebut sebagai pengetahuan ilmiah
atau ilmu pengetahuaan, maka pembicaraan di dalamnya pasti berkenaan dengan
batas-batas dan jangauan tersebut, yaitu mengenai sumber ilmu, hakikat ilmu,
keabsahan ilmu dan nilai ilmu.
Dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu sebenarnya adalah
Ilmu mengenai Ilmu (science for sciences). Filsafat ilmu berkenaan dengan
penyelidikan tentang ciri-ciri suatu pengetahuan untuk disebut sebagai
pengetahuan ilmiah, karena itu bisa diberi predikat sebagai ilmu. Tercakup
didalamnya ialah penyelidikan terhadap cara-cara untuk memperoleh ilmu itu.
Dalam filsafat ilmu akan dipertanyakan kembali secara de jure, landasan serta
asas-asas yang memungkinkan suatu pembenaran terhadap ilmu dan apa yang
dianggap benar oleh ilmu.
1.5 Filsafat Science Moderen
1) Istilah filsafat science
moderen digunakan untuk menyataka pandangan-pandangan filsafati yang mebentuk
emikiran mengenai science yang pada umumnya dipahami sebagai pengetahuan ilmiah
sekarang ini.
2) Istilah moderen pada
filsafat science digunakan bukan dalam arti bahwa filsafat ilmu islami yang
kelak akan dibahas dalam buku ini tidak moderen. Istilah tersebut digunakan
hanya untuk lebih memudahkan kita memahami identitasnya masing-masing dan
betapa memang terdapat perbedaan konseptual yang mendasar antara keduanya.
Berikut ini dikemukakan beberapa pandangan
ahli filsafat ilmu sebagai pandangan Filsafat Science Moderen.
Beerling,
Kwee, Mooij dan Van Peursen membedakan pembicaraan dalam filsafat ilmu menurut
tendesinya yaitu :
a. Yang bertendensi metafisik
b. Yang bertendensi metodologik
Sementara itu ahli lain tidak melihat pembicaraan
filsafat sebagai suatu kesatuan konseptual yang membicarakan tiga problem, yaitu
:
1) Problema Asal Pengetahuan
(Origin Of knowledge). Problema ini meliputi tiga pertanyaan, yatu :
a) Apakah sumber pengetahuan ?
b) Dari manakah pengetahuan
yang benar itu?
c) Bagaimana kita dapat
mengetahui?
2) Problem Penmpilan
(appearance) Realitas. Problem ini meliputi pertanyaan :
a) Bagaimana watak pengetahuan?
b) Adakah dunia nyata diluar
akal? Kalau ada,
c) Dapatkah kita mengetahuinya?
3) Problema Pengujian
(verfication) kebenaran pengetahuan. Problem ini meliputi :
a) Apakah pengetahuan kita
benar?
b) Bagaimana kita membedakan
kebenaran dan kekliruan
Sementara itu, Jujun S.Suriasumantri
berpandangan bahwa filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafati yang ingin
menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu dalam tiga landasan folosofis, yaitu
:
1) LANDASAN ONTOLOGIS, dengan
pertanyaan – pertanyaan mendasar :
-
Obyek
apa yang ditelaah ilmu?
-
Bagaimana
wujud hakiki obyek tersebut?
-
Bagaimana
hubungan antara obyek itu dengan daya tangkap manusia?
2) LANDASAN EPISTEMOLOGIS,
dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar :
-
Bagaimana
proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?
-
Bagaimana
prosedurnya?
-
Hal-hal
apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar?
-
Cara/teknik/sarana
apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
3) LANDASAN AKSIOLOGIS, dengan
pertanyaan mendasar :
-
Untuk
apa ilmu digunakan?
-
Bagaimana
kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah – kaidah moral?
-
Bagaimana
kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah
dengan norma-norma moral/profesional?
1.6 Filsafat Ilmu Islami
Yang dimaksud dengan filsafat ilmu islami ialah ilmu
secara filsafati berdasarkan pemahaman ajaran Islam yang bersumber pada Al
Quran dan Hadis Nabi.
Dengan penyajian bahasan filsafat ilmu yang demikian akan
diperoleh beberapa manfaat, antara lain :
1) Memperkaya padangan ilmu
secara filsafati baik bagi kalangan mahasiswa, sarjana dan kalangan ilmuan
muslim lainnya, maupun kalangan ilmuan non muslim.
2) Memberikan bahan pemikiran
kritis bagi ilmuan muslim untuk melakukan koreksi atau bandingan terhadap jalan
dan cara yang telah ditempuhnya selama ini dalam membentuk pemikirannya
mengenai segala hal yang berkenaan dengan ilmu, yang selama ini secara formal
hanya dibentuk oleh dasar pemikiran non-islami.
3) Dimilikinya suatu konsep
keilmuan secara filsafati, yang tidak menempatkan ilmu dan agama sebagai duah
hal yang masing-masing berdiri berdampingan secara komplementer atau
berhadap-hadapan secara kontradiktif. Juga dengan itu, menyodorkan suatu bentuk
filsafat ilmu yang tidak memisahkan antara dimensi ekduniaan dan dimnesi
keakhiratan sebagaimana paham sekularisme yagn mendasari filsafat science
moderen.
Dalam pembahasan epistemologi, filasafat ilmu islami akan
berbicara tentang indra lahir, fuad sebagai indra batin, aql atau akal sebagai
alat dari qalb (hati) untuk membawa hasil penalaran ke dataran pemahaman yang
lebih dalam, yaitu dunia makna. Dalam aksiologi, filsafat ilmu islami akan
menempatkan nilai ilmiah, nilai kebenaran, nilai etika dan estetika sebagai satu-kesatuan
nilai, namun tidak saling mengaburkan. Dalam hal ini, pada tingkatan tertinggi
filsafat ilmu islmai memberikan konsep ibadah sebagai ultimate goal
penyelenggaraan ilmu, baik dalam proses maupun penggunaan dalam kehidupan.
SUMBER PENGETAHUAN
2.1
Sumber Pengetahuan menurut Filsafat Science Moderen.
Filsafat moderen memandang
bahwa selalu ada dua hal yang berhubungan, yaitu obyek-obyek yang diketahui dan
subyek yang mengetahui maka harus ada perbedaan antara sumber-sumber eksternal
dan internal pengetahuan. Obyek-obyek yang diketahui adalah sumber pengetahuan
(sumber eksternal Pengetahuan). Sedangkan pada subyek yang mengetahui, yaitu
manusia, terdapat potensi-potensi yang dengannya pengetahuan menjadi mungkin
diaktualkan. Para filsuf sciece moderen berpendapat bahwa potensi-potensi itu
adalah sumber-sumber internal pengetahuan.
Rasionalisme adalah salah
satu aliran filsafat yang secara umum menekankan rasio (dari kata Latin : ratio)
sebagai sumber utama pengetahuan.
Empirisme adalah juga salah
satu aliran filsafatt yang meletakkan doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan
harus dicari dan karena ia hanya bersumber dari pengalaman. Menurut paham
empirisme pengalaman sebagai satu-satunya
sumber pengetahuan.
Aliran ketiga yang
diletakkan oleh Immanuel Kant (1724 – 1804), Kritisisme (Kant), yang pada
dasarnya bertujuan mengeliminir kecenderungan ekstrim rasionalisme dan
empirisme. Kant berpandangan bahwa baik
rasionalisme maupun empirisme, berat sebelah. Dikatakan, pengetahuan manusia
terjadi dari sintesa unsur-unsur aposteriori ( sesudah pengalaman). Karena itu,
untuk mencapai obyektivitas ilmu pengetahuan, orang harus menghindarkan diri
dari sikap sepihak rasionalisme atau empirisme.
Dalam buku Living Issues in Philosophy, Harold
H. Titus, Marulyn S. Smith dan Richard T. Nolan mengemukakan bahwa dalam
pembahasan moderen dewasa ini ada empat sumber pengetahuan yang mungkin.
1. Orang yang memiliki
otoritas.
2. Indra
3. Akal
4. Intuisi
2.2 Al Quran dan Pandangan Filosofis Tentang Sumber
Pengetahuan
Pandangan filosofis mengenai sumber pengetahuan
Makna-makna mendasar terssebut ialah :
1. Bahwa manusia tidak membawa pengetahuan sejak awal
diciptakan / dilahirkan (An Nahl 78), karena itu tidak mungkin menempati posisi
sebagai sumber pengetahuan. Susuatu yang pada mulanya tidak memiliki tidak
mungkin menjadi sumber, karena ia juga hanya berpsisi sebagai yang memperoleh.
2. Hanya Allah yang Maha
Mengetahui segala sesuatu (Thaha 98, At Thalaq 12) yang pengetahuannya meliputi
yang gaib maupun yang nyata (Al Hasyr 22)
3. Pada hakikatnya hanya Allah
Yang Maha Mengetahui dan manusia pada hakikatnya tidak mengetahui (An Nahl 74)
4. Manusia dikarunia Tuhan
“peralatan”,”jalan”, dan petunjuk yang secara potensial memungkinkan ia
memperoleh pengetahuan (An Nahl 74, Ar Rahman 1-4, An Nahl 89, Ali Imran 118,
Al Anbiya’ 7, Thaha 98, Al Hasyr 22).
5. Perolehan Pengetahuan oleh
manusia adalah perolehan dengan
perantaran (Knowledge by...), yakni segala perantara (bil) yang meniscayakan
(qalam) pengetahuan itu diredhai oleh Allah untuk diperoleh, sebagai perwujudan
Allah mengajarkan (‘Allama) kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya (ma
lam ya’lam)
6. Segala pengetahuan yang
diusahakan oleh manusia untuk diperolehnya, hakikatnya tercakup dan merupakan
pengetahuan/ilmu Allah.
Dari
makna-makna mendasar yang dijadikan landasan tersebu diatas, maka filsafat Ilmu
Islami berpandangan bahwa satu-satunya sumber pengetahuan ialah Allah SWT
Dengan pandangan filsafati bahwa hanya Allah sumber
pengetahuan, tidak berarti bahwa manusia tidak memiliki keniscayaan memiliki
pengetahuan/Sebagai sumber pengetahuan yang menyatakan diriNya mengajarkan
kepada manusia apa-apa yang tidak
diketahuinya. Dia telah melengkapi manusia segala yang meniscayakan manusia
mengusahakan perolehan pengetahuan (Al Alaq 3-5). Yang meniscayakan manusia
memperoleh pegetahuan ialah peralatan idrawi lahiriah yang diwakili penyebutan
oleh assa’a ( kemampuan mendengar), al Abshaf (kemampuan melihat, bepandangan),
serta indra batiniah (alaP idah) dan kemampuan berakal (An Nahl 74 dan Ali
Imran 118) Peralatan din (qalam internal) yang meniscayakan pengetahuan
tersebut berada pada diri manusia sebagai peralatan dengan potensialitas
internal untuk berpengetahuan.
Kumudian diantara manusia ada yang dapat menjadi “jalan”
lebih lanjut bagi manusia lain untuk memperoleh ilmu. Mereka itu adalah disebut
ahl al zikr (Al Anbiya 7). Ahl al zikr ini adalah mereka yang diberi otoritas
oleh Allah sebagai jalan bagi manusia lain untuk memperoleh bagian kecil
tertentu dari ilmuNya.
Kenyataan bahwa pengetahuan tentang sumber pengetahuan
itu sendiri adalah salah-satu bentuk pengetahuan tersendiri yang diperoleh
melalui petunjuk Allah dalam Al Quran semakin menjelaskan bahwa Allah adalah
Sumber Pengetahuan.
Demikian pula, sebagai sumber, Dia mengajarkan manusia
tentang apa saja yang dikaruniakanNya yang meniscayakan pengetahuan itu
diperoleh.
Dia (Allah) juga menjelaskan bahwa salah satu yang utama
meniscayakan diperolehnya pengetahuan itu (baca : Allah mengajarkan pada
manusia apa-apa yang tidak diketahuinya) ialahpetunjuk Al Quran. Dalam hal ini,
Al Quran adalah referensi utama bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan.
Bahkan dalam arti tertentu, untuk menyatakan Allah sebagai sumber pengetahuan,
adakalanya digunakan istilah Al Quran sebagai sumber pengetahuan.
Dari penjelasan di atas, kita bisa melihat betapa dengan kembali
kepada Allah sebagai Sumber pengetahuan, melalui petunjuNya dalam Al Quran,
kita dapat membagun pandangan Filsafat lmu Islami tentang Sumber Pengetahuan.
Demikian halnya kedudukan pelatan pada diri manusia serta mereka yang diakui otoritasnya
sebagai jalan untuk memperoleh pengetauan, yang dalam filsafat science moderen
justru ditempatkan sebagai sumber pengetahuan itu sendiri yang kemudian sama
sekali memutuskan diri atau meniadakan pembicaraan mengenai Tuhan sebagai
sumber pengetahuan.
Pandangan
filsafat Ilmu Islami tentan Allah sebagai sumber pengetahuan pada hakikatnya
merupakan implementasi pandangan tauhid melalui makna mendasar bahwa pada
hakikatnya tiada yang memiliki ilmu selain allah (An Nahl 74). Bila pandangan
ini dikatakan sebagai pandangan tauhid, maka pandangan mengenai sumber
pengetahuan dalam filsafat science moderen, adalah pandangan anti tauhid dan
bahkan ateistik.
2. Lima alasan penting
mempelajari Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah
1.
Filsafat
Ilmu merupakan Ilmu Pokok dan pangkal segala pengetahuan Mengutip perkataan
dari Ahli Filsafat Immanuel Kant (1724 – 1804 M) mengatakan bahwa filsafat
adalah ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup didalamnya empat
persoalan, yaiu : 1) metafisika yang membahas apakah yang dapat diketahui; 2)
etika, membahas apa yang boleh dikerjakan; 3) agama, membahas sampai dimana
pengharapan manusia; 4) anthropologi yang membahas apa dan siapa manusia itu
sesungguhnya.
2.
Filsafat
Ilmu merupakan obyek pemikiran yang dilakoni oleh manusia yang memiliki dua
sisi penting yaitu sisi fungsi dan artinya bagi manusia, sisi pertama filsafat
berfungsi sebagai suatu filsafat hidup, sisi kedua, filsafat mengandung arti
keilmuan.
3.
Filsafat
ilmu sebagai suatu pedoman pemikiran di dalam mengenal Tuhan sebagai pencipta
manusia dan menjadikan cara berpikir manusia harus mengenal dirinya sebagai
aktualisasi mengenal Tuhannya.
4.
Dalam
Al Quran dan Hadis Nabi, berulang-ulang memerintahkan agar manusia berfikir, serta memberi landasan
petunjuk agar manusia bisa melahirkan pandangan filsafati mengenai berfikir.
5.
Filsafat
adalah ilmu yang tak terbatas karena tidak hanya menyelidiki satu bidang
tertentu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar