Pages - Menu - sub menu

Senin, 23 November 2015

aku berharap masih mengerti cara menggunakan HTML
Mengapa hidup begitu terasa berbeda saat aku mencoba untuk memulai perubahan
FILSAFAT ILMU

1.1  Pengertian Filsafat
Istilah Filsafat diserap dalam bahasa Indonesia dari bahasa arab, yaitu dari kata falsafah. Itulah sebabnya, kedua kata tersebut sering digunakan misalnya :
a.    Filsafat Ilmu,
b.    Filsafat Hukum,
c.    Falsafah Hidup,
d.    Falsafah Ilmu Pengetahuan, dan beberapa penggunaan lainnya.
Istilah Filsafat dalam bahasa Arab, sebenarnya juga merupakan serapan dari bahasa Yunani, yaitu kata Philosophia. Philo berarti cinta dan sophia berarti kebenaran atau hikma. Dengan demikian Philosophia mengandung arti cinta kebenaran atau cinta akan hikma.
Pengertian Filsafat menurut beberapa ahli diantaranya dikemukakan Oleh :
-          Plato (427 – 247 SM) berpendapat bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada. Bagi Plato Filsafat berkenaan  dengan upaya penemuan kenyataan atau kebenaran mutlak lewat dialektika.
-          Aristoteles (384 – 322 SM) berpendapat bahwa Filsafat itu menyelidiki sebab dan prinsip segala sesuatu. Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika. Dalam arti ini Aristoteles  memandang bahwa filsafat adalah totalitas pengetahuan manusia.
-          Alfarabi ( Wafat 950 M), Filsuf muslim besar sebelum Ibnu Stita berpendapat bahwa filsafat adalah Ilmu tentang sesuatu yang maujud ( mengada)  sebagaimana ia secara hakiki sebagai wujud.
-          Rene Descartes (1596 – 1650), berpandangan bahwa filsafat merupakan pembentangan atau penyingkapan kebenaran terakhir.
-          Immanuel Kant (1724 – 1804 M), Mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya  empat persoalan, yaitu :
1)    Metafisika yang membahas mengenai apakah yang dapat diketahui,
2)    Etika yang membahas mengenai apakah yang boleh kita kerjakan,
3)    Agama yang membahas sampai dimana pengharapan manusia,
4)    Anthropologi yang membahas apa dan siapa manusia itu sesungguhnya.
Pandangan ahli filsafat mutakhir yang diataranya adalah :
-          Harold H. Titus, Mengatakan bahwa :
philosophy is the attempt to give a reasoned conception of the universe and of man’s place in it.
Filsafat ialah usaha mencari suatu konsep rasional tentang alam semesta serta kedudukan manusia didalamnya.
-          J. A. Leigh ton mengatakan bahwa :
a complete philosophy includes a word-view, doctrine of values, meaning and purpose of human life.
Suatu filsafata yang lengkap mencakup suatu pandangan dunia, atau konsep rasional tentang keseluruhan kosmos, dan suatu pandangan hidup atau doktrin nilai-nilai, makna-makna dan tujuan hidup manusia.
Juga dikemukakan pendapat dari guru besar psikologi Indonesia.
-          Fuad Hassan, yang menyatakan bahwa : filsafat ialah suatu ikhtiar untuk berfikir radikal, dalam arti mulai dari radix (akar) suatu hal yang hendak dimasalahkan, untuk mencapai kesimpulan yang universal.
-          Jujus S. Suriasumantri, mencoba memberikan pengertian tentang filsafat dengan bahasa pengandaian.
-          Suriasumantri mengatakan, seorang yang berfilsafat dapat diumpamakan sebagai orang yang berpijak dibumi, sedang tengadah kebintang-bintang. Suriasuantri hendak menjelaskan karakteristik berfikir secara filsafat mengenai ilmu :
1)    Berfikir menyeluruh.
2)    Berfikir mendasar
3)    Berfikir spekulatif.
Ciri utama filsafat yaitu bertanya dan terus mempertanyakan  dalam upaya mencapai  hakikat (kesejatian) sesuatu yang dipertanyakan dengan jawaban yang benar. Tujuan filsafat yaitu dicapainya jawaban berupa hakikat sesuatu yang dipertanyakan, dengan jawaban yang benar.
Sebenarnya, dari mana pertanyaan filsafat harus dimulai?
Bermula dari pertanyaan sederhana semacam itulah (misalnya : apakah ilmu pengetahuan?) kita masuk kesilayah filsafat atau berfikir filsafat. Pertanyaan itu harus dijawab secara radikal atau dari akar masalahnya, sebagaimana pandangan Fuad Hassan. Untuk menjawab pertanyaan itu maka kita harus berfikir mendasar mengenai ilmu, berfikir menyeluruh mengenai ilmu dan berfikir sepekulatif terhadap berbagai kemungkinan kebenaran mengenai ilmu, sebagaimana pandangan Jujun Suriasumantri.
1.2 Repsentasi Filsafat dalam Filsafat Barat
Menurut Garaudy ialah bahwa filsafat barat makin lama makin menegaskan dirinya hanya sebagai cara berfikir dan kehilangan maknanya sebagai cara hidup. Dalam filsafat barat manusia semakin mengarahkan perhatiannya semata-mata pada dirinya sendiri tanpa ada hubungannya dengan Alam dan Tuhan. Dengan cara berfikir seperti itu, mulailah perpindahan manusia Barat. Manusia telah lupa pada wujud  Alam dan Wujud Tuhan. Demikianlah, dalam pemikiran yang terputus dair kehidupan, kata-kata dan benda-benda kehilangan artinya sebagai tanda-tanda (ayat-ayat) Tuhan.
Naguib Al Attas, mengatakan bahwa peradaban Barat berkembang dari perpanduan historis antara kebudayaan, filsaat, nilai-nilai dan aspirasi-aspirasi Yunani dan Roma Kuno, serta dengan pencampurannya dengan Yudaisme dan agama Kristen, yang lebih lanjut melalui percampran dan pembentukannya oleh bangsa-bangsa Latin, Germanik, Keltik dan Nordik. Dari Yunani Kuno, Barat Memperoleh unsur-unsur filsafat dan epistemologi serta dasar-dasar pendidikan etika dan estetika. Dari Roma memperoleh unsur-unsur hukum, tata negara dan pemerintahan. Dari Yudaisme dan Kristen memperoleh unsur-unsur kepercayaan agama. Dari bangsa-bangsa Latin, Germanik, Keltik dan Nordik memperoleh semangat bebas dan jiwa rasional serta nilai tradisional, serta pengembangan serta pemajuan ilmu-ilmu fisika teknologi.
1.3  Filsafat Islami.
Berfikir islami dengan cara berfikir filsafat yaitu berfikir filsafati berdasarkan pendangan dunia  yang dibentuk oleh pemahaman akan ajaran islam. Yaitu berfikir filsafati menurut kkonsep rasionla tentang kesauan kosmos yang dibentuk oleh pemahaman kaan ajaran islam. Yaitu berfikir filsafati menurut pandangan hidup ajaran islam. Yaitu berfikir filsafat dengan pemahaman nilai-nilai, makna-makna dan tujuan hidup manusia menurut ajaran islam.
Memang berfikir itu sendiri oleh islam dipandang sebagai suatu yang fitra (kodrati) pada manusia. Karena itu ajaran islam yang direpresentasikan dalam Al Quran dan Hadis Nabi, berulang-ulang memeintahkan ( baca : memberi stimulus ) agar manusia berfikir, serta memberi landasan petunjuk agar manusa bisa :
1)    Melahirkan pandangan filsafati mengenai berpikir
2)    Merumuskan kaidah-kaidah berpikir logis secara formal
3)    Menformulasi materi filsafati dan materi pengetahuan ilmiah
4)    Menformulasikan model pengujian kebenaran pemikiran
Berfikir filsafati secara islami ialah memikirkan sesuatu secara ushuli dalam keadaan sadar tentang tentang Allah (berfikir – zikir) sehingga sang pemikir senantiasa memelihara dan menumbuhkan kesadaran ke Tuhan annya dan menemukan makna hakiki yang terkandung dalam apa yang difikirkannya.
Kesejalanan dan sekaligus persimpangan pengertian antara berfikir filsafati non Islami (Barat) dengan berfikir filsafati secara Islmi. Kesejalanannya ditemukan dalam kenyataan berfikir secara radikal terhadap sesuatu yang difikirkan, dan persimpangannya ditemukan dalam kekhasan berfikir filsafati islmai yang tidak melepaskan kesadaran ke Tuhanan ketika berfikir.
1.4 Pengertian dan Lingkup Pembahasan Filsafat Ilmu.
Dalam kamus filsafat yang disusunnya, Loren Bagus menyatakan bahwa filsafat dalam penggunaanya bagi penyelidikan pengetahuan manusia (filsafat Pengetahuan), mempunyai arti sebagai upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan manusia : sembernya, hakikatnya, keabsahannya dan nilainya. Dalam hai ini, karena yang akan dipelajari secara filsafati adalah pengetahuan manusia yang disebut sebagai pengetahuan ilmiah atau ilmu pengetahuaan, maka pembicaraan di dalamnya pasti berkenaan dengan batas-batas dan jangauan tersebut, yaitu mengenai sumber ilmu, hakikat ilmu, keabsahan ilmu dan nilai ilmu.
Dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu sebenarnya adalah Ilmu mengenai Ilmu (science for sciences). Filsafat ilmu berkenaan dengan penyelidikan tentang ciri-ciri suatu pengetahuan untuk disebut sebagai pengetahuan ilmiah, karena itu bisa diberi predikat sebagai ilmu. Tercakup didalamnya ialah penyelidikan terhadap cara-cara untuk memperoleh ilmu itu. Dalam filsafat ilmu akan dipertanyakan kembali secara de jure, landasan serta asas-asas yang memungkinkan suatu pembenaran terhadap ilmu dan apa yang dianggap benar oleh ilmu.

1.5 Filsafat Science Moderen
1)    Istilah filsafat science moderen digunakan untuk menyataka pandangan-pandangan filsafati yang mebentuk emikiran mengenai science yang pada umumnya dipahami sebagai pengetahuan ilmiah sekarang ini.
2)    Istilah moderen pada filsafat science digunakan bukan dalam arti bahwa filsafat ilmu islami yang kelak akan dibahas dalam buku ini tidak moderen. Istilah tersebut digunakan hanya untuk lebih memudahkan kita memahami identitasnya masing-masing dan betapa memang terdapat perbedaan konseptual yang mendasar antara keduanya.
 Berikut ini dikemukakan beberapa pandangan ahli filsafat ilmu sebagai pandangan Filsafat Science Moderen.
Beerling, Kwee, Mooij dan Van Peursen membedakan pembicaraan dalam filsafat ilmu menurut tendesinya yaitu :
a.    Yang bertendensi metafisik
b.    Yang bertendensi metodologik
Sementara itu ahli lain tidak melihat pembicaraan filsafat sebagai suatu kesatuan konseptual yang membicarakan tiga problem, yaitu :
1)    Problema Asal Pengetahuan (Origin Of knowledge). Problema ini meliputi tiga pertanyaan, yatu :
a)    Apakah sumber pengetahuan ?
b)    Dari manakah pengetahuan yang benar itu?
c)    Bagaimana kita dapat mengetahui?
2)    Problem Penmpilan (appearance) Realitas. Problem ini meliputi pertanyaan :
a)    Bagaimana watak pengetahuan?
b)    Adakah dunia nyata diluar akal? Kalau ada,
c)    Dapatkah kita mengetahuinya?
3)    Problema Pengujian (verfication) kebenaran pengetahuan. Problem ini meliputi :
a)    Apakah pengetahuan kita benar?
b)    Bagaimana kita membedakan kebenaran dan kekliruan
Sementara itu, Jujun S.Suriasumantri berpandangan bahwa filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafati yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu dalam tiga landasan folosofis, yaitu :
1)    LANDASAN ONTOLOGIS, dengan pertanyaan – pertanyaan mendasar :
-          Obyek apa yang ditelaah ilmu?
-          Bagaimana wujud hakiki obyek tersebut?
-          Bagaimana hubungan antara obyek itu dengan daya tangkap manusia?
2)    LANDASAN EPISTEMOLOGIS, dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar :
-          Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?
-          Bagaimana prosedurnya?
-          Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar?
-          Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
3)    LANDASAN AKSIOLOGIS, dengan pertanyaan mendasar :
-          Untuk apa ilmu digunakan?
-          Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah – kaidah moral?
-          Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?

1.6 Filsafat Ilmu Islami
Yang dimaksud dengan filsafat ilmu islami ialah ilmu secara filsafati berdasarkan pemahaman ajaran Islam yang bersumber pada Al Quran dan Hadis Nabi.
Dengan penyajian bahasan filsafat ilmu yang demikian akan diperoleh beberapa manfaat, antara lain :
1)    Memperkaya padangan ilmu secara filsafati baik bagi kalangan mahasiswa, sarjana dan kalangan ilmuan muslim lainnya, maupun kalangan ilmuan non muslim.
2)    Memberikan bahan pemikiran kritis bagi ilmuan muslim untuk melakukan koreksi atau bandingan terhadap jalan dan cara yang telah ditempuhnya selama ini dalam membentuk pemikirannya mengenai segala hal yang berkenaan dengan ilmu, yang selama ini secara formal hanya dibentuk oleh dasar pemikiran non-islami.
3)    Dimilikinya suatu konsep keilmuan secara filsafati, yang tidak menempatkan ilmu dan agama sebagai duah hal yang masing-masing berdiri berdampingan secara komplementer atau berhadap-hadapan secara kontradiktif. Juga dengan itu, menyodorkan suatu bentuk filsafat ilmu yang tidak memisahkan antara dimensi ekduniaan dan dimnesi keakhiratan sebagaimana paham sekularisme yagn mendasari filsafat science moderen.
Dalam pembahasan epistemologi, filasafat ilmu islami akan berbicara tentang indra lahir, fuad sebagai indra batin, aql atau akal sebagai alat dari qalb (hati) untuk membawa hasil penalaran ke dataran pemahaman yang lebih dalam, yaitu dunia makna. Dalam aksiologi, filsafat ilmu islami akan menempatkan nilai ilmiah, nilai kebenaran, nilai etika dan estetika sebagai satu-kesatuan nilai, namun tidak saling mengaburkan. Dalam hal ini, pada tingkatan tertinggi filsafat ilmu islmai memberikan konsep ibadah sebagai ultimate goal penyelenggaraan ilmu, baik dalam proses maupun penggunaan dalam kehidupan.

SUMBER PENGETAHUAN
2.1 Sumber Pengetahuan menurut Filsafat Science Moderen.
Filsafat moderen memandang bahwa selalu ada dua hal yang berhubungan, yaitu obyek-obyek yang diketahui dan subyek yang mengetahui maka harus ada perbedaan antara sumber-sumber eksternal dan internal pengetahuan. Obyek-obyek yang diketahui adalah sumber pengetahuan (sumber eksternal Pengetahuan). Sedangkan pada subyek yang mengetahui, yaitu manusia, terdapat potensi-potensi yang dengannya pengetahuan menjadi mungkin diaktualkan. Para filsuf sciece moderen berpendapat bahwa potensi-potensi itu adalah sumber-sumber internal pengetahuan.
Rasionalisme adalah salah satu aliran filsafat yang secara umum menekankan rasio (dari kata Latin : ratio) sebagai sumber utama pengetahuan.
Empirisme adalah juga salah satu aliran filsafatt yang meletakkan doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari dan karena ia hanya bersumber dari pengalaman. Menurut paham empirisme  pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.
Aliran ketiga yang diletakkan oleh Immanuel Kant (1724 – 1804), Kritisisme (Kant), yang pada dasarnya bertujuan mengeliminir kecenderungan ekstrim rasionalisme dan empirisme.  Kant berpandangan bahwa baik rasionalisme maupun empirisme, berat sebelah. Dikatakan, pengetahuan manusia terjadi dari sintesa unsur-unsur aposteriori ( sesudah pengalaman). Karena itu, untuk mencapai obyektivitas ilmu pengetahuan, orang harus menghindarkan diri dari sikap sepihak rasionalisme atau empirisme.
 Dalam buku Living Issues in Philosophy, Harold H. Titus, Marulyn S. Smith dan Richard T. Nolan mengemukakan bahwa dalam pembahasan moderen dewasa ini ada empat sumber pengetahuan yang mungkin.
1.    Orang yang memiliki otoritas.
2.    Indra
3.    Akal
4.    Intuisi
2.2 Al Quran dan Pandangan Filosofis Tentang Sumber Pengetahuan
Pandangan filosofis mengenai sumber pengetahuan Makna-makna mendasar terssebut ialah :
1.    Bahwa manusia  tidak membawa pengetahuan sejak awal diciptakan / dilahirkan (An Nahl 78), karena itu tidak mungkin menempati posisi sebagai sumber pengetahuan. Susuatu yang pada mulanya tidak memiliki tidak mungkin menjadi sumber, karena ia juga hanya berpsisi sebagai yang memperoleh.
2.    Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu (Thaha 98, At Thalaq 12) yang pengetahuannya meliputi yang gaib maupun yang nyata (Al Hasyr 22)
3.    Pada hakikatnya hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan manusia pada hakikatnya tidak mengetahui (An Nahl 74)
4.    Manusia dikarunia Tuhan “peralatan”,”jalan”, dan petunjuk yang secara potensial memungkinkan ia memperoleh pengetahuan (An Nahl 74, Ar Rahman 1-4, An Nahl 89, Ali Imran 118, Al Anbiya’ 7, Thaha 98, Al Hasyr 22).
5.    Perolehan Pengetahuan oleh manusia  adalah perolehan dengan perantaran (Knowledge by...), yakni segala perantara (bil) yang meniscayakan (qalam) pengetahuan itu diredhai oleh Allah untuk diperoleh, sebagai perwujudan Allah mengajarkan (‘Allama) kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya (ma lam ya’lam)
6.    Segala pengetahuan yang diusahakan oleh manusia untuk diperolehnya, hakikatnya tercakup dan merupakan pengetahuan/ilmu Allah.
Dari makna-makna mendasar yang dijadikan landasan tersebu diatas, maka filsafat Ilmu Islami berpandangan bahwa satu-satunya sumber pengetahuan ialah Allah SWT
Dengan pandangan filsafati bahwa hanya Allah sumber pengetahuan, tidak berarti bahwa manusia tidak memiliki keniscayaan memiliki pengetahuan/Sebagai sumber pengetahuan yang menyatakan diriNya mengajarkan kepada manusia  apa-apa yang tidak diketahuinya. Dia telah melengkapi manusia segala yang meniscayakan manusia mengusahakan perolehan pengetahuan (Al Alaq 3-5). Yang meniscayakan manusia memperoleh pegetahuan ialah peralatan idrawi lahiriah yang diwakili penyebutan oleh assa’a ( kemampuan mendengar), al Abshaf (kemampuan melihat, bepandangan), serta indra batiniah (alaP idah) dan kemampuan berakal (An Nahl 74 dan Ali Imran 118) Peralatan din (qalam internal) yang meniscayakan pengetahuan tersebut berada pada diri manusia sebagai peralatan dengan potensialitas internal untuk berpengetahuan.
Kumudian diantara manusia ada yang dapat menjadi “jalan” lebih lanjut bagi manusia lain untuk memperoleh ilmu. Mereka itu adalah disebut ahl al zikr (Al Anbiya 7). Ahl al zikr ini adalah mereka yang diberi otoritas oleh Allah sebagai jalan bagi manusia lain untuk memperoleh bagian kecil tertentu dari ilmuNya.
Kenyataan bahwa pengetahuan tentang sumber pengetahuan itu sendiri adalah salah-satu bentuk pengetahuan tersendiri yang diperoleh melalui petunjuk Allah dalam Al Quran semakin menjelaskan bahwa Allah adalah Sumber Pengetahuan.
Demikian pula, sebagai sumber, Dia mengajarkan manusia tentang apa saja yang dikaruniakanNya yang meniscayakan pengetahuan itu diperoleh.
Dia (Allah) juga menjelaskan bahwa salah satu yang utama meniscayakan diperolehnya pengetahuan itu (baca : Allah mengajarkan pada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya) ialahpetunjuk Al Quran. Dalam hal ini, Al Quran adalah referensi utama bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan. Bahkan dalam arti tertentu, untuk menyatakan Allah sebagai sumber pengetahuan, adakalanya digunakan istilah Al Quran sebagai sumber pengetahuan.
Dari penjelasan di atas, kita bisa melihat betapa dengan kembali kepada Allah sebagai Sumber pengetahuan, melalui petunjuNya dalam Al Quran, kita dapat membagun pandangan Filsafat lmu Islami tentang Sumber Pengetahuan. Demikian halnya kedudukan pelatan pada diri manusia serta mereka yang diakui otoritasnya sebagai jalan untuk memperoleh pengetauan, yang dalam filsafat science moderen justru ditempatkan sebagai sumber pengetahuan itu sendiri yang kemudian sama sekali memutuskan diri atau meniadakan pembicaraan mengenai Tuhan sebagai sumber pengetahuan.
Pandangan filsafat Ilmu Islami tentan Allah sebagai sumber pengetahuan pada hakikatnya merupakan implementasi pandangan tauhid melalui makna mendasar bahwa pada hakikatnya tiada yang memiliki ilmu selain allah (An Nahl 74). Bila pandangan ini dikatakan sebagai pandangan tauhid, maka pandangan mengenai sumber pengetahuan dalam filsafat science moderen, adalah pandangan anti tauhid dan bahkan ateistik.
2. Lima alasan penting mempelajari Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah
1.    Filsafat Ilmu merupakan Ilmu Pokok dan pangkal segala pengetahuan Mengutip perkataan dari Ahli Filsafat Immanuel Kant (1724 – 1804 M) mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup didalamnya empat persoalan, yaiu : 1) metafisika yang membahas apakah yang dapat diketahui; 2) etika, membahas apa yang boleh dikerjakan; 3) agama, membahas sampai dimana pengharapan manusia; 4) anthropologi yang membahas apa dan siapa manusia itu sesungguhnya.
2.    Filsafat Ilmu merupakan obyek pemikiran yang dilakoni oleh manusia yang memiliki dua sisi penting yaitu sisi fungsi dan artinya bagi manusia, sisi pertama filsafat berfungsi sebagai suatu filsafat hidup, sisi kedua, filsafat mengandung arti keilmuan.
3.    Filsafat ilmu sebagai suatu pedoman pemikiran di dalam mengenal Tuhan sebagai pencipta manusia dan menjadikan cara berpikir manusia harus mengenal dirinya sebagai aktualisasi mengenal Tuhannya.
4.    Dalam Al Quran dan Hadis Nabi, berulang-ulang memerintahkan  agar manusia berfikir, serta memberi landasan petunjuk agar manusia bisa melahirkan pandangan filsafati mengenai berfikir.
5.    Filsafat adalah ilmu yang tak terbatas karena tidak hanya menyelidiki satu bidang tertentu.




Jumat, 13 November 2015

Assalamu alaikum,,,wr wb,
Pada kesempatan kali ini, saya akan menjelaskan tentang singkatan BMT, yang ada pada title blogq ini, jadi kenapa sayun a beri nama dengan BMT, mau tau sejarahnya, jadi gini, awal tah

Jumat, 10 April 2015

Pengertian Multimedia dan Contohnya


Pengertian Multimedia dan Contohnya
Multimedia adalah suatu sarana (media) yang didalamnya terdapat perpaduan (kombinasi) berbagai bentuk elemen informasi, seperti teks, graphics, animasi, video, interaktif maupun suara sebagai pendukung untuk mencapai tujuannya yaitu menyampaikan informasi atau sekedar memberikan hiburan bagi target audiens-nya.
Multimedia sering digunakan dalam dunia hiburan seperti game. Kata multimedia itu sendiri berasal dari kata multi (Bahasa Latin) yang berarti banyak dan katamedia (Bahasa Latin) yang berarti sesuatu yang dipakai untuk menyampaikan sesuatu.
Multimedia dapat dikategorikan menjadi 2 macam, yaitu mulitimedia linier dan multimedia interaktif. Multimedia linier adalah suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Multimedia ini berjalan sekuensial (berurutan / lurus), contohnya : TV dan film. Sedangkan multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol (atau alat bantu berupa komputer, mouse, keyboard dan lain-lain) yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang diinginkan untuk proses selanjutnya. Contohnya seperti aplikasi game. Multimedia interaktif menggabungkan dan mensinergikan semua media yang terdiri dari teks, grafik, audio, dan interaktivitas (rancangan).
Multimedia dapat disajikan dalam beberapa metode, antara lain :
-    Berbasis kertas (Paper-based), contoh : buku, majalah, brosur.
-    Berbasis cahaya (Light-based), contoh : slideshows, transparansi.
-    Berbasis suara (Audi-based), contoh : CD Players, tape recorder, radio.
-    Berbasis gambar bergerak (Moving-image-based), contoh : televisi, VCR (Video Cassete Recorder, film.